Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,45 Persen, Pemerintah Siapkan Stimulus Jaga Daya Beli
Reporter: Vidyaningrum, AN

JAKARTA, 24/10/2026 FolksNews.id – Pemerintah mengklaim perekonomian Indonesia tumbuh 5,45 persen pada semester I-2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut kinerja investasi dan sektor produktif menjadi penopang pertumbuhan, sementara pemerintah menyiapkan stimulus untuk menjaga konsumsi rumah tangga hingga akhir tahun.
Pernyataan tersebut disampaikan Airlangga dalam Sidang Kabinet Paripurna yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (21/10/2026). Informasi itu dipublikasikan melalui laman resmi Presiden RI pada Jumat (23/10/2026).
“Ekonomi dan stabilitas sektor riil, ini ekonomi kita terus tumbuh di atas 5 persen, yaitu 5,45 persen, di mana ini lebih tinggi dari global rata-rata yang 3 persen dan kita di sini tertinggi di G20 Pak Presiden, dan juga salah satu yang tertinggi di ASEAN”, ujar Menko Airlangga dikutip dari laman Presiden RI.
Airlangga menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi global yang diperkirakan sebesar 3 persen. Namun, capaian tersebut perlu dilihat bersama indikator lain untuk menilai seberapa kuat pertumbuhan ekonomi dirasakan masyarakat.
Indikator ekonomi menunjukkan aktivitas usaha menguat
Dalam laporannya, Airlangga menyampaikan sejumlah indikator yang menggambarkan kondisi perekonomian nasional. Indeks Manajer Pembelian atau Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur meningkat menjadi 52,4, berada di atas ambang 50 yang menandakan ekspansi aktivitas manufaktur.
Selain itu, pemerintah melaporkan indeks keyakinan konsumen sebesar 118,1. Tingkat pengangguran disebut berada di angka 4,65 persen, sedangkan rasio Gini tercatat 0,368. Pemerintah juga melaporkan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar 1,24 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
Indikator tersebut memberi gambaran mengenai aktivitas industri, sentimen konsumen, kondisi ketenagakerjaan, dan pengelolaan fiskal. Meski demikian, angka-angka itu memiliki ukuran dan cakupan berbeda sehingga tidak dapat digunakan secara tunggal untuk menyimpulkan bahwa seluruh kelompok masyarakat telah merasakan peningkatan kesejahteraan.
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian sebelumnya menyebut industri pengolahan menjadi kontributor terbesar terhadap PDB nasional pada semester I-2026, dengan porsi 18,50 persen. Industri pengolahan nonmigas tumbuh 5,32 persen pada periode yang sama.
Stimulus diarahkan untuk menjaga daya beli
Untuk mempertahankan momentum pertumbuhan pada kuartal IV-2026, pemerintah menyiapkan sejumlah stimulus ekonomi. Berdasarkan laporan Airlangga, bantuan pangan berupa beras 10 kilogram per bulan direncanakan menyasar 33,24 juta keluarga penerima manfaat dengan anggaran Rp17,54 triliun.
Pemerintah juga menyiapkan bantuan subsidi upah sebesar Rp300 ribu selama tiga bulan bagi 13,3 juta pekerja, dengan anggaran Rp11,97 triliun. Program tersebut diarahkan untuk menopang daya beli masyarakat sekaligus menjaga konsumsi rumah tangga.
Selain bantuan langsung, pemerintah merencanakan stimulus transportasi untuk periode Natal 2026 dan Tahun Baru 2027. Skema yang disampaikan meliputi diskon tiket kereta api dan kapal sebesar 30 persen, penyesuaian tarif jasa kepelabuhanan, serta pajak pertambahan nilai ditanggung pemerintah untuk perjalanan udara domestik.
Pemerintah memperkirakan stimulus transportasi tersebut dapat menjangkau sekitar 6,6 juta orang dengan anggaran Rp883,4 miliar.
Pertumbuhan ekonomi perlu diikuti keterjangkauan kebutuhan pokok
Pertumbuhan ekonomi sebesar 5,45 persen menunjukkan aktivitas ekonomi nasional berkembang. Namun, dampaknya terhadap rumah tangga juga bergantung pada perkembangan harga barang dan jasa, pendapatan pekerja, serta kesempatan kerja yang tersedia.
Karena itu, efektivitas stimulus tidak cukup dinilai dari besarnya anggaran atau jumlah penerima. Perkembangan harga kebutuhan pokok, daya beli riil, dan keberlanjutan pekerjaan juga penting diperhatikan untuk melihat apakah pertumbuhan ekonomi benar-benar dirasakan masyarakat.
Baca juga:Â Prabowo Targetkan Kredit Rakyat Rp400 Triliun pada 2027, Sasar 28 Juta Keluarga
