Benteng Van den Bosch Ngawi: Jejak Sejarah dan Destinasi Wisata Benteng Pendem
Oleh: Vidyaningrum,AN-FolksNews

NGAWI – Kabupaten Ngawi tidak hanya dikenal dengan keramahan masyarakatnya. Daerah ini juga menyimpan warisan sejarah yang menjadi daya tarik wisata. Salah satunya adalah Benteng Van den Bosch, yang lebih dikenal masyarakat sebagai Benteng Pendem.
Bangunan peninggalan kolonial Belanda ini menjadi salah satu ikon sejarah Kabupaten Ngawi. Benteng tersebut menyimpan cerita tentang perebutan wilayah, pertahanan militer, perdagangan, hingga aktivitas pendidikan pada masa kolonial.
Awal Berdirinya Benteng Van den Bosch

Sejarah Benteng Van den Bosch tidak dapat dipisahkan dari perebutan wilayah Ngawi pada abad ke-19.
Pada 1825, Ngawi berhasil direbut oleh Belanda setelah terjadi perlawanan yang melibatkan sejumlah tokoh. Beberapa di antaranya adalah Bupati Kerto Dirjo, Adipati Judodiningrat, Raden Tumenggung Surodirjo, serta salah seorang pengikut Pangeran Diponegoro.
Setelah menguasai Ngawi, pemerintah kolonial Belanda melihat wilayah tersebut memiliki posisi yang strategis. Ngawi berada di kawasan pertemuan jalur sungai dan perdagangan yang menghubungkan berbagai wilayah di Jawa.
Kemudian, di bawah pimpinan Johannes Graaf van den Bosch, pemerintah kolonial membangun Benteng Van den Bosch pada 1839.
Pembangunan benteng tersebut tidak hanya bertujuan untuk pertahanan militer. Pada saat yang sama, posisi Ngawi membuat benteng memiliki fungsi penting untuk menjaga kedudukan Belanda dan mengawasi jalur perdagangan.
Lokasi benteng berada di sekitar pertemuan Bengawan Madiun dan Bengawan Solo. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan penting dalam penentuan lokasi pembangunan benteng.
Pengelola Benteng Van den Bosch, Nanang, menjelaskan bahwa keberadaan dua sungai besar tersebut membuat Ngawi memiliki posisi strategis pada masa itu.
“Di Ngawi terdapat dua sungai besar, yaitu pertemuan muara Sungai Bengawan Madiun dan Sungai Bengawan Solo. Itu melintasi di belakang benteng untuk mempertahankan kedudukan Belanda dan mempertahankan jalur perdagangan,” jelas Nanang, pengelola Benteng Van Den Bosch pada Sabtu sore (15/08/2026)
Benteng dengan Pertahanan yang Kuat

Benteng Van den Bosch dibangun dengan ukuran yang cukup besar. Kawasan bangunannya memiliki ukuran sekitar 165 meter x 80 meter, dengan luas tanah yang mencapai sekitar 18.579 hektare.
Pada masa penggunaannya sebagai fasilitas pertahanan, benteng ini dihuni sekitar 250 tentara Belanda. Pasukan tersebut dilengkapi dengan persenjataan, termasuk meriam yang digunakan untuk memperkuat pertahanan kawasan.
Tidak hanya pasukan infanteri, benteng juga dilengkapi sekitar 60 personel kavaleri atau pasukan berkuda.
Keberadaan pasukan dalam jumlah besar menunjukkan pentingnya Benteng Van den Bosch bagi pemerintah kolonial Belanda. Benteng tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal tentara, tetapi juga menjadi pusat pertahanan untuk mengamankan wilayah dan jalur perdagangan yang melewati Ngawi.
Mengapa Disebut Benteng Pendem?

Meski memiliki nama resmi Benteng Van den Bosch, masyarakat lebih mengenalnya dengan sebutan Benteng Pendem.
Nanang menjelaskan, bangunan benteng dikelilingi tanggul yang memiliki posisi lebih tinggi dibandingkan bangunan utama. Akibatnya, keberadaan benteng tidak mudah terlihat dari luar dan seolah-olah berada di dalam tanah.
“Dinamakan Benteng Pendem karena ada tanggul yang mengelilingi benteng lebih tinggi dari benteng. Dulu bentengnya tidak kelihatan karena ditutupi oleh tanggul. Makanya oleh pribumi di sini disebut Benteng Pendem,” ungkap Nanang pada Sabtu sore (15/08/2026)
Dengan demikian, nama Benteng Pendem bahkan kini menjadi identitas tersendiri bagi salah satu destinasi wisata sejarah di Kabupaten Ngawi.
Tak Hanya untuk Aktivitas Militer
Benteng Van den Bosch sejak awal memiliki fungsi utama sebagai bagian dari sistem pertahanan Belanda. Namun, aktivitas di dalam benteng ternyata tidak terbatas pada kegiatan militer.
Salah satu jejak aktivitas nonmiliter dapat dilihat dari tulisan “LOG” yang terdapat di bagian barak tentara depan.
Tulisan tersebut merupakan singkatan dari Lands Opvoedings Gesticht, sebuah lembaga pendidikan negara yang diperuntukkan bagi anak-anak.
Dengan demikian, keberadaan tulisan tersebut menunjukkan bahwa kawasan benteng pernah memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar kompleks militer.
Dari Benteng Pertahanan Menjadi Destinasi Wisata Sejarah

Kini, suasana Benteng Van den Bosch jauh berbeda dengan masa ketika ratusan tentara Belanda menempati kawasan tersebut.
Bangunan yang dahulu menjadi bagian dari sistem pertahanan kolonial kini menjadi destinasi yang didatangi berbagai kalangan. Pelajar, mahasiswa, masyarakat lokal hingga wisatawan dari luar daerah datang untuk melihat langsung peninggalan sejarah tersebut.
Menurut Nanang, pelajar dan mahasiswa menjadi salah satu kelompok pengunjung yang datang dengan tujuan mempelajari sejarah benteng. Di sisi lain, sebagian masyarakat datang untuk mengenal sejarah daerah sekaligus menikmati arsitektur bangunan dan mengabadikan momen.
“Kalau dari kalangan pelajar dan mahasiswa memang ingin belajar sejarahnya dan juga foto-foto. Kalau masyarakat sini ada juga yang ingin tahu sejarahnya dan ada juga yang hanya foto-foto,” katanya.
Selain nilai sejarahnya, arsitektur bergaya Eropa yang masih dapat ditemukan di kawasan benteng juga menjadi daya tarik tersendiri. Bangunan tersebut memberikan pengalaman visual yang berbeda bagi wisatawan sekaligus menjadi salah satu ikon sejarah di Jawa Timur.
Informasi Kunjungan Benteng Van den Bosch
Hingga saat ini, Benteng Van den Bosch tidak hanya menjadi peninggalan sejarah. Kawasan tersebut juga dibuka sebagai destinasi wisata di Kabupaten Ngawi.
Pengunjung dapat melihat langsung bangunan bergaya Eropa yang masih menjadi daya tarik utama. Selain itu, wisatawan dapat mengenal sejarah benteng melalui berbagai informasi yang tersedia di kawasan tersebut.
Benteng Van den Bosch berada di Jl. Untung Suropati No. II, Pelem II, Pelem, Kecamatan Ngawi, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur.
Kawasan wisata ini dapat dikunjungi setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 17.00 WIB. Tiket masuknya sebesar Rp10.000 per orang.
Revitalisasi untuk Menjaga Warisan Sejarah
Kelestarian Benteng Van den Bosch menjadi perhatian penting sebagai bangunan bersejarah. Nanang menyebut benteng tersebut telah masuk sebagai bagian dari cagar budaya nasional berdasarkan SK Nomor 427/M/2022.
Untuk menjaga kondisi bangunan, revitalisasi menjadi salah satu langkah yang dilakukan. Upaya tersebut diperlukan agar benteng tidak semakin rusak akibat usia dan faktor lingkungan.
“Harapan dari revitalisasi benteng ini karena untuk melestarikan bangunannya itu sendiri. Benteng sudah mengalami degradasi atau kerusakan pada tingkat bangunan,” ujar Nanang.
Menurutnya, pelestarian tidak cukup hanya dilakukan melalui perawatan fisik bangunan. Di sisi lain, masyarakat juga perlu memahami sejarah yang melekat pada Benteng Van den Bosch.
Oleh arena itu, keberadaan benteng diharapkan dapat menjadi ruang pembelajaran sejarah, khususnya bagi generasi muda.
