Hunter’s Moon 26 Oktober 2026

Hunter’s Moon Hiasi Langit Malam Ini, BMKG Ingatkan Potensi Banjir Rob

Spread the love

Reporter: Vidyaningrum, AN

Hunter’s Moon 26 Oktober 2026
Hunter’s Moon terlihat pada 26 Oktober 2026. BMKG menyarankan pengamatan mulai pukul 20.00 WIB dan mengingatkan potensi banjir rob./Foto: Ilustrasi

JAKARTA, FolksNews.id – Fenomena astronomi Hunter’s Moon atau Bulan Pemburu dapat diamati pada Senin malam (26/10/2026). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyarankan masyarakat mulai mengamati Bulan sekitar pukul 20.00 WIB, ketika posisinya sudah cukup tinggi di langit.

Dalam keterangan resmi yang diterbitkan pada Jumat (23/10/2026), BMKG menjelaskan bahwa Hunter’s Moon merupakan istilah tradisional untuk bulan purnama yang muncul setelah Harvest Moon atau Bulan Panen.

Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG, Teguh Rahayu, menjelaskan bahwa fenomena ini tidak memiliki perbedaan fisik dengan bulan purnama biasa. Keistimewaannya terletak pada latar belakang sejarah dan budaya yang menyertai penamaannya.

BMKG Jelaskan Waktu Pengamatan Hunter’s Moon

Berdasarkan perhitungan BMKG untuk wilayah Jakarta, Bulan diperkirakan terbit dari arah timur pada pukul 17.53 WIB, Senin (26/10/2026).

Pada awal kemunculannya, Bulan mungkin sulit diamati karena posisinya masih dekat dengan garis cakrawala. Gedung tinggi dan penghalang lain juga dapat membatasi pandangan.

BMKG menyebut pukul 20.00 WIB sebagai waktu yang baik untuk mulai mengamati fenomena tersebut. Bulan diperkirakan mencapai posisi tertinggi di langit Jakarta pada pukul 23.58 WIB, sebelum terbenam pada Selasa (27/10/2026) pukul 05.10 WIB.

Masyarakat dapat menyaksikan Hunter’s Moon tanpa alat khusus. Namun, keterlihatannya tetap bergantung pada kondisi cuaca dan keterbukaan pandangan ke arah langit.

Waktu terbit dan terbenam Bulan dapat berbeda di setiap wilayah. Karena itu, masyarakat di luar Jakarta perlu menyesuaikan waktu pengamatan dengan kondisi setempat.

Asal-usul Nama Bulan Pemburu

Nama Hunter’s Moon berasal dari tradisi masyarakat di Amerika Utara, termasuk suku Algonquian dan pemukim awal Eropa.

Jika Harvest Moon dikaitkan dengan masa panen, Hunter’s Moon berhubungan dengan kegiatan berburu untuk menyiapkan persediaan makanan menjelang musim dingin.

Pada masa tersebut, ladang yang telah dipanen menjadi tempat hewan mencari sisa hasil panen. Cahaya bulan purnama juga membantu masyarakat melakukan perburuan pada malam hari.

Sebutan Bulan Pemburu kemudian digunakan sebagai nama tradisional untuk bulan purnama setelah Harvest Moon. Istilah ini bukan menandakan adanya jenis fenomena astronomi yang berbeda.

BMKG Ingatkan Potensi Banjir Rob

Selain mengajak masyarakat menikmati fenomena langit, BMKG mengingatkan warga pesisir untuk mewaspadai potensi banjir rob selama fase bulan purnama.

Pada fase ini, posisi Matahari, Bumi, dan Bulan berada dalam satu garis atau hampir sejajar. Kondisi tersebut memperkuat pengaruh gravitasi terhadap air laut dan dapat memicu pasang purnama.

Akibatnya, permukaan air laut berpotensi mengalami pasang lebih tinggi dan surut lebih rendah dibandingkan kondisi biasa. Dampaknya dapat berbeda di setiap wilayah pesisir.

BMKG mengimbau masyarakat untuk memantau informasi cuaca, gelombang laut, serta peringatan banjir rob dari kantor BMKG setempat.

Dengan memperhatikan kondisi cuaca dan memilih lokasi pengamatan yang aman, masyarakat dapat menikmati Hunter’s Moon sekaligus mengantisipasi potensi dampak pasang air laut.

Baca juga: Gempa M 5,2 Guncang Malang, BMKG Pastikan Tidak Berpotensi Tsunami

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *