|

Impor dari China Mei 2026 Tembus Rp14 Triliun Lewat Tanjung Perak

Spread the love
ilustrasi-Impor dari China Mei 2026 Tembus Rp14 Triliun Lewat Tanjung Perak
ilustrasi-Impor dari China Mei 2026 Tembus Rp14 Triliun Lewat Tanjung Perak

Malang — Fiky

Impor dari China Mei 2026 tercatat cukup besar khusus untuk arus barang yang masuk melalui Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai impor dari China pada bulan tersebut melalui pelabuhan ini mencapai US$908.522.650,57, atau setara sekitar Rp14 triliun dengan asumsi kurs Rp15.500 per dolar AS.

Angka tersebut merupakan akumulasi dari 3.230 pos tarif atau kode HS berbeda, mulai dari bahan baku industri, mesin, hingga produk pangan segar. Data ini menegaskan bahwa Tanjung Perak masih menjadi salah satu pintu masuk utama arus barang asal China ke wilayah Jawa Timur dan sekitarnya.

Baja dan Alat Berat Mendominasi

Dari sisi nilai, produk setengah jadi dari besi atau baja bukan paduan (slab baja) menjadi komoditas dengan nilai impor tertinggi, mencapai sekitar US$40 juta. Disusul oleh derek kapal serta crane jembatan dan gantry dengan nilai impor sekitar US$38,3 juta.

Golongan produk baja lainnya, seperti produk setengah jadi baja berkadar karbon rendah, juga tercatat dengan nilai signifikan, masing-masing berkisar US$25 juta dan US$9,3 juta. Tren ini mengindikasikan tingginya kebutuhan bahan baku industri logam dan konstruksi di dalam negeri.

Buah Impor dan Bahan Pangan Turut Menonjol

Selain bahan baku industri, sejumlah komoditas pangan segar asal China juga tercatat dengan nilai impor besar. Apel segar menempati posisi ketiga dengan nilai sekitar US$27,5 juta, diikuti jeruk mandarin segar maupun kering senilai sekitar US$23,7 juta, serta buah pir segar senilai sekitar US$17,8 juta.

Bawang putih segar turut menjadi salah satu komoditas pangan dengan nilai impor tinggi, yakni sekitar US$18 juta, sementara kacang tanah tercatat senilai sekitar US$12 juta. Tingginya angka impor produk hortikultura ini sejalan dengan pola konsumsi masyarakat yang masih bergantung pada pasokan dari luar negeri untuk sejumlah komoditas tertentu.

Bahan Baku Plastik dan Logam Non-Ferrous

Di sektor petrokimia, polipropilena dalam bentuk primer seperti granul, pelet, dan serpihan tercatat senilai sekitar US$27,4 juta, sedangkan polietilena tereftalat (PET) untuk kebutuhan industri kemasan senilai sekitar US$13 juta. Kawat tembaga murni turut masuk dalam daftar komoditas bernilai tinggi, dengan nilai impor sekitar US$10,9 juta, mengindikasikan kebutuhan industri elektronik dan kelistrikan yang masih tinggi.

Gambaran Arus Perdagangan Jawa Timur

Data impor dari China Mei 2026 melalui Tanjung Perak ini memberi gambaran bahwa Jawa Timur, khususnya Surabaya dan sekitarnya, masih menjadi simpul penting arus barang dari China untuk kebutuhan industri maupun konsumsi rumah tangga. Kombinasi antara bahan baku industri berat seperti baja dan plastik dengan produk pangan segar menunjukkan beragamnya kebutuhan yang dipenuhi lewat jalur impor ini.

Data lengkap mencakup ribuan pos tarif dengan nilai bervariasi, mulai dari puluhan juta dolar AS hingga di bawah seratus dolar AS per komoditas, menegaskan bahwa arus impor dari China mencakup spektrum barang yang sangat luas.

 

Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS) RI — data ekspor-impor (bps.go.id), diakses 2 Agustus 2026

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *