Investor Masih Menanti Sinyal Inflasi AS dan Arah Suku Bunga The Fed
Penulis, Ama(AF)-Folksnews.id. Melansir Newswire-Bisnis.com 13 Juli 2026, 10.56

Rupiah Berpeluang Menguat, Investor Tunggu Data Inflasi AS
JAKARTA, FolksNews – Nilai tukar rupiah diperkirakan masih berpeluang menguat terhadap dolar Amerika Serikat sepanjang pekan ini, meski ruang penguatannya terbatas. Pelaku pasar global masih menanti rilis data inflasi inti (Core CPI) Amerika Serikat, yang akan menjadi acuan penting arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, The Federal Reserve.
Rupiah Ditutup Menguat Akhir Pekan Lalu
Melansir Bisnis.com, pada penutupan perdagangan Jumat (10/7/2026), rupiah ditutup menguat 63 poin atau sekitar 0,35 persen ke level Rp18.065 per dolar AS. Posisi ini membaik dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp18.128 per dolar AS.
Analis Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa, menilai stabilitas rupiah saat ini masih ditopang kondisi fundamental ekonomi domestik, khususnya cadangan devisa Indonesia yang tetap tinggi.
Cadangan Devisa Jadi Penopang Stabilitas Rupiah
Cadangan devisa Indonesia pada akhir Juni 2026 tercatat US$145,6 miliar, naik dibandingkan posisi akhir Mei sebesar US$144,9 miliar. Kenaikan ini memberi ruang lebih besar bagi Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar jika terjadi tekanan dari pasar keuangan global.
Selain cadangan devisa, komitmen Bank Indonesia untuk terus melakukan stabilisasi di pasar valuta asing juga dinilai jadi penyangga penting pergerakan rupiah di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.
Investor Masih Menanti Data Inflasi Inti AS
Perhatian investor saat ini tertuju pada data inflasi inti Amerika Serikat. Jika inflasi menunjukkan perlambatan, peluang The Fed menurunkan suku bunga akan semakin terbuka — kondisi yang berpotensi menekan penguatan dolar AS dan memberi sentimen positif bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Sebaliknya, jika inflasi inti masih tinggi, ekspektasi suku bunga tinggi di AS dapat kembali menguat dan berpotensi menambah tekanan terhadap rupiah.
Dengan kondisi ini, pelaku pasar diperkirakan tetap berhati-hati mengambil keputusan investasi hingga arah kebijakan moneter AS lebih jelas. Sementara itu, fundamental ekonomi domestik yang relatif kuat diharapkan mampu menjaga stabilitas rupiah di tengah dinamika pasar global.
Penulis: Newswire | Editor: Ibad Durrohman
