| |

Kementan Gelar Rakor Pengendalian Inflasi, Cadangan Beras Nasional Tembus 5,24 Juta Ton Tertinggi Sejak 1969

Spread the love

Nilai Tukar Petani juga mencatat rekor tertinggi dalam 34 tahun terakhir, sementara pemerintah menyiapkan sejumlah langkah antisipasi dampak El Nino menjelang puncak musim kemarau Agustus-September 2026.

Reporter: Wahyu  |  Jakarta, 20 Juli 2026

Dok foto:kementrian pertanian
Dok foto:kementrian pertanian

FOLKSNEWS.ID, JAKARTA – Kementerian Pertanian (Kementan) menggelar Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi bertajuk “Upaya Pengamanan Produksi Pangan” di Jakarta, Senin (20/7/2026). Rapat ini menjadi bagian dari langkah pemerintah menjaga stabilitas harga dan pasokan pangan nasional, sekaligus mengantisipasi dampak El Nino yang diprediksi mencapai puncaknya pada Agustus hingga September 2026.

Dalam paparan yang disampaikan Kementan, disebutkan bahwa Presiden Prabowo Subianto berulang kali menegaskan pentingnya sektor pangan sebagai persoalan strategis bagi bangsa. “Pangan adalah masalah hidup atau mati suatu bangsa. Kita sebagai bangsa harus memandang pangan ini strategis,” demikian pernyataan Presiden yang dikutip dalam materi rapat tersebut.

Mentan Tegaskan Harga Pangan Tidak Boleh Naik

Menteri Pertanian menekankan sejumlah arahan penting terkait pengendalian inflasi pangan. Ia menegaskan harga pangan harus tetap sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) dan tidak boleh dipermainkan di tengah situasi saat ini. Filosofi yang diusung Kementan dalam menjaga rantai pasok pangan disampaikan lewat semboyan “Petani Bahagia, Pedagang Untung, Konsumen Tersenyum”.

Sejumlah langkah konkret yang ditekankan antara lain menjaga harga di tingkat konsumen, meningkatkan operasi pasar, serta memastikan pasokan pangan tetap terjaga hingga ke daerah.

Antisipasi El Nino, 58 Kabupaten di 17 Provinsi Berpotensi Kekeringan

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim kemarau 2026 akan terjadi pada Agustus di 369 zona musim (ZOM) atau sekitar 48,84 persen wilayah daratan Indonesia, disusul September di 169 ZOM lainnya. BMKG turut memprediksi peluang intensitas El Nino berada di level moderat hingga kuat.

Berdasarkan pemetaan kejadian El Nino selama enam tahun terakhir, Kementan mengidentifikasi 58 kabupaten di 17 provinsi sebagai wilayah langganan kekeringan, mulai dari Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, DIY, NTT, hingga Kalimantan, Sulawesi, dan Papua Selatan.

Untuk mengantisipasi dampak tersebut, Kementan telah mengirimkan surat kepada seluruh gubernur berisi lima langkah strategis, yakni pemetaan wilayah rawan kekeringan, optimalisasi irigasi, percepatan tanam dengan varietas tahan kekeringan, pengaturan pola tanam, serta penguatan koordinasi dengan pemerintah daerah. Kementan turut mengajukan permohonan teknologi modifikasi cuaca atau hujan buatan kepada BMKG untuk wilayah rawan kekeringan.

Sebagai kesiapan alat mesin pertanian (alsintan) menjelang panen, Kementan menargetkan penyaluran total 94.767 unit alsintan pada 2026, meliputi traktor, pompa air, hand sprayer, hingga rice transplanter. Selain itu, disiapkan pula 17.400 unit irigasi perpompaan, 3.500 unit irigasi perpipaan, 3.700 unit bangunan konservasi air, dan 57.303 unit pompa air yang tersebar di seluruh provinsi.

Produksi Beras Diproyeksi Naik di Tengah Ancaman El Nino Global

Di tengah proyeksi penurunan produksi beras dunia sebesar 1,6 persen akibat dampak El Nino, produksi beras Indonesia justru diperkirakan naik 0,2 persen pada musim 2026/2027, dari 38,5 juta ton menjadi 38,6 juta ton. Berdasarkan data Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), capaian ini berpotensi menempatkan Indonesia sebagai produsen beras terbesar di ASEAN dan peringkat keempat dunia.

Sepanjang 2025, Indonesia bahkan mencatat swasembada beras dalam waktu satu tahun, jauh lebih cepat dari target semula empat tahun. Produksi beras nasional pada 2025 tercatat 34,69 juta ton, naik 4,07 juta ton atau 13,29 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani per 17 Juli 2026 rata-rata tercatat Rp6.948 per kilogram, atau 6,89 persen di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sebesar Rp6.500 per kilogram. Harga tertinggi tercatat di Kalimantan Selatan sebesar Rp7.875 per kilogram, sementara harga terendah Rp6.500 per kilogram terjadi di Kepulauan Bangka Belitung, Kalimantan Timur, dan Papua Barat.

Cadangan Beras Pemerintah Tertinggi Sepanjang Sejarah

Salah satu capaian yang disoroti dalam rapat ini adalah cadangan beras pemerintah yang dikelola Bulog. Per 19 Juli 2026, cadangan beras nasional tercatat 5,24 juta ton, tertinggi sejak pencatatan dimulai pada 1969 yang saat itu hanya sebesar 0,26 juta ton.

Selaras dengan capaian produksi, Nilai Tukar Petani (NTP) Juni 2026 juga mencatat rekor 127,65, tertinggi dalam 34 tahun terakhir sejak data tersedia pada 1992. Kenaikan NTP mencerminkan membaiknya daya beli maupun kesejahteraan petani dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Harga Bawang Merah dan Cabai Terpantau Stabil

Untuk komoditas hortikultura, harga rata-rata bawang merah di tingkat konsumen pada minggu ketiga Juli 2026 tercatat Rp40.843 per kilogram, sementara di tingkat produsen Rp23.728 per kilogram. Kementan mencatat produksi dan ketersediaan bawang merah pada Juli 2026 secara kumulatif masih mencukupi kebutuhan nasional, dengan neraca surplus 25.514 ton.

Sementara itu, harga cabai rawit merah rata-rata berada di kisaran Rp54.206 per kilogram di tingkat konsumen, sedangkan cabai merah keriting Rp44.629 per kilogram. Kementan menyebut harga di kedua level tersebut masih berada dalam rentang Harga Acuan Pembelian (HAP) yang ditetapkan pemerintah.

Guna menopang pasokan komoditas cabai, Kementan menyalurkan bantuan kawasan aneka cabai seluas 2.953 hektare di 336 kabupaten/kota pada 36 provinsi, berupa benih, pupuk P, pupuk KNO3, dan mulsa. Program ini turut melibatkan puluhan petani “champion” cabai dan bawang merah di berbagai daerah sebagai simpul kerja sama antardaerah untuk pemenuhan pasokan wilayah defisit.

Harga Telur dan Daging Ayam Masih di Bawah Harga Acuan

Rerata harga mingguan telur ayam ras tingkat konsumen nasional pada minggu kedua Juli 2026 tercatat Rp28.950 per kilogram, atau masih 3,50 persen di bawah HAP. Adapun harga karkas daging ayam ras di tingkat konsumen berada di kisaran Rp36.434 per kilogram, atau 8,92 persen di bawah HAP.

Kementan menyiapkan sejumlah solusi jangka pendek maupun menengah, di antaranya penjaminan ketersediaan pakan dan DOC, penyerapan produk oleh BUMN pangan saat harga anjlok, penguatan rantai dingin, hingga pengembangan cadangan karkas beku nasional.

Gula dan Minyak Goreng Terpantau Terkendali

Produksi gula pasir lokal pada Juli 2026 tercatat 610.103 ton dengan harga rata-rata Rp19.080 per kilogram. Sementara ketersediaan minyak goreng curah dan kemasan dilaporkan stabil, dengan harga Minyakita per Juli 2026 berada di kisaran Rp18.130 per kilogram.

Sinergi Lintas Kementerian dan Lembaga

Kementan menyebut sejumlah forum koordinasi lintas kementerian dan lembaga telah digelar sepanjang 2026 untuk memperkuat kesiapan menghadapi El Nino, di antaranya Rapat Koordinasi Nasional Antisipasi Kemarau bersama 170 bupati, rapat koordinasi bersama Kementerian Koordinator Bidang Pangan, serta pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Menteri Pertanian di Istana Merdeka pada 18 Juni 2026.

Melalui rapat koordinasi ini, Kementan menegaskan komitmennya untuk terus memantau perkembangan harga, produksi, dan distribusi pangan strategis, guna menjaga stabilitas inflasi sekaligus kesejahteraan petani di tengah tantangan iklim yang dihadapi sepanjang 2026.

Sumber: Materi Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi, Kementerian Pertanian RI, 20 Juli 2026.

 

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *