Lima Kali Rebound dalam 30 Bulan, Deutsche Bank Prediksi Saham Teknologi Kembali Melonjak
Penulis: Vidyaningrum

NEW YORK, 2 November 2026, FolksNews – Deutsche Bank memperkirakan saham teknologi Amerika Serikat berpeluang kembali menguat setelah mengalami koreksi tajam sepanjang Oktober 2026. Prediksi tersebut mengacu pada lima kali rebound saham teknologi dalam 30 bulan terakhir yang mencatat rata-rata kenaikan sekitar 32 persen.
Optimisme itu ditandai dengan perubahan rekomendasi Deutsche Bank dari neutral menjadi overweight. Keputusan tersebut membalikkan rekomendasi sebelumnya yang diturunkan sekitar tiga pekan lalu.
Mengutip laporan MarketWatch, Senin (2/11/2026), strategi Deutsche Bank didasarkan pada tiga faktor. Ketiganya meliputi posisi investor, kinerja saham, dan persepsi terhadap pertumbuhan laba perusahaan teknologi.
Koreksi terbaru membuat saham teknologi dan perusahaan berkapitalisasi besar atau mega-cap growth tertinggal lebih dari 16 poin persentase dibandingkan saham lainnya dalam indeks S&P 500.
Dalam tiga pekan, kelompok saham tersebut turun sekitar 11 persen. Sebaliknya, saham di luar kelompok itu justru mencatat kenaikan hampir 6 persen.
Lima Rebound Catat Rata-Rata Kenaikan 32 Persen
Deutsche Bank mencatat lima kali pemulihan berbentuk V atau V-shaped rebound dalam 30 bulan terakhir. Pola tersebut menggambarkan penurunan tajam yang diikuti kenaikan harga saham dalam waktu relatif singkat.
Pada lima periode sebelumnya, saham tersebut mencatat rata-rata kenaikan sekitar 32 persen. Selain itu, kinerjanya mengungguli kelompok saham lain dalam S&P 500 sekitar 30 poin persentase.
Namun, angka tersebut merupakan catatan historis dan bukan target kenaikan untuk periode mendatang. Deutsche Bank juga mengakui bahwa sejumlah gejolak pasar sebelumnya sempat mendorong saham teknologi turun lebih dalam sebelum pulih.
Meski demikian, bank tersebut menilai perbandingan risiko dan peluang investasi kini kembali menarik. Kondisi ini menjadi dasar perubahan rekomendasi terhadap sektor teknologi.
Pertumbuhan Laba Teknologi Masih Kuat
Faktor kedua berkaitan dengan perubahan posisi investor. Sekitar tiga pekan sebelumnya, eksposur investor terhadap saham teknologi masih tergolong tinggi. Setelah koreksi pasar, posisinya kembali ke tingkat netral.
Menurut Deutsche Bank, kondisi tersebut menunjukkan masih adanya ruang bagi investor untuk meningkatkan kepemilikan saham teknologi.
Faktor berikutnya adalah kesenjangan antara ekspektasi investor dan pertumbuhan laba perusahaan. Posisi investor saat ini mencerminkan perkiraan pertumbuhan laba sektor teknologi sekitar 10 persen.
Padahal, pertumbuhan laba per saham atau earnings per share (EPS) sektor teknologi pada kuartal III 2026 mendekati 47 persen.
Perbedaan tersebut menjadi salah satu alasan Deutsche Bank menilai sentimen pasar belum sepenuhnya mencerminkan kinerja perusahaan teknologi.
Selain itu, pertumbuhan laba perusahaan dalam indeks S&P 500 mencapai sekitar 31 persen. Deutsche Bank mencatat perusahaan median dalam indeks tersebut membukukan pertumbuhan laba sekitar 14 persen.
Belanja AI Picu Kekhawatiran Pasar
Di sisi lain, tekanan terhadap saham teknologi tidak terlepas dari meningkatnya kekhawatiran investor terhadap investasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Perusahaan teknologi besar mengalokasikan belanja modal dalam jumlah besar untuk membangun pusat data dan infrastruktur komputasi. Namun, investor mulai mempertanyakan kecepatan investasi tersebut menghasilkan keuntungan.
Hasil kinerja sejumlah perusahaan besar, termasuk kelompok Magnificent Seven, turut memperkuat kekhawatiran mengenai pengembalian investasi AI.
Baca juga: 10 Saham Top Losers BEI, ALDO Anjlok 29,92 Persen
