KONGRES KEBUDAYAAN NUSANTARA
Tim Redaksi Eksklusif ama, folksnews.id Office DPPHPKTTYME 22 Juli 2026 [ 13.00]

Malang folksnews.id – Office Dewan Pimpinan Pusat Himpunan Penghayatan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Bersama bapak Dr.Ir.hadi Prajoko, SH., MH ( Ketua Umum Dewan pusat ) dan Agung Rizki .Z. ( Sekjen ) “ Menggali Jejak-Jejak Peradaban Nusantara Sebagai Fondasi Nilai dan Kearifan Luhur Untuk Membangun Kepribadian Bangsa Mewujudkan Indonesia Emas 2045”
Motivasi Utama Diselenggarakannya Acara Ini
Motivasi utama penyelenggaraan Kongres Kebudayaan Nusantara berangkat dari keprihatinan terhadap semakin terkikisnya tradisi, nilai-nilai budaya, dan budi pekerti luhur di tengah masyarakat. Selama ini budaya lebih sering diperlakukan sebagai objek, bukan sebagai subjek yang hidup dan menjadi bagian dari identitas bangsa.
Menurut Hadi Prajoko budya itu memori, kita sebagai bangsa untuk mengembalikan memori yang hilang, maka memerlukan dilandaskan langsung oleh rakyat menampung aspirasi masyarakat Indonesia yang kita mulai di jawa timur.
Kabupaten Malang dipilih sebagai lokasi penyelenggaraan
Kabupaten Malang dipilih karena Jawa Timur, khususnya Malang, memiliki banyak budayawan dan pelaku budaya yang masih aktif melestarikan nilai-nilai tradisional. Selain itu, pemerintah daerah, terutama Bupati Malang, dinilai memiliki perhatian terhadap pengembangan kebudayaan tradisional.
Kongres ini direncanakan berlangsung di lima provinsi sebagai pemantik lahirnya kongres kebudayaan di berbagai daerah. Setelah Jawa Timur, kegiatan akan dilanjutkan ke Jawa Barat, Bali, Jawa Tengah, dan Sumatera Utara.
Narasumber Yang Telah Dikonfirmasi Hadir
Sejumlah narasumber dari berbagai kalangan telah dikonfirmasi untuk hadir, di antaranya:
- Jenderal TNI (Purn) H.Prabowo Subianto Djojohadikusumo ( Presiden Republik Indonesia )
- Perwakilan dari Kementerian Kebudayaan.
- Irjen.Pol.R. Ahmad Nurwakhid,S.E.,M.M. yang saat ini bertugas di Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (sebelumnya menjabat di BNPT).
- Prof. Joko Saryono,M.Pd ahli sejarah dan bahasa dari Universitas Negeri Malang.
- Dr. Bambang Noorsena, S.H., M.A.
- Moderator dari kalangan akademisi perguruan tinggi Indonesia, salah satunya berasal dari Yogyakarta.
Menurut Hadi Prajoko juga berharap Presiden Prabowo Subianto dapat hadir memberikan orasi kebudayaan. Komunikasi telah dilakukan, meskipun hingga saat ini kehadiran Presiden masih menunggu kepastian.
Menurut penyelenggara, Presiden memiliki perhatian terhadap pembangunan bangsa yang berakar pada nilai-nilai budaya. Harapannya, pembangunan nasional tidak kehilangan arah dan tetap berpijak pada identitas budaya Indonesia.
Target Utama Yang Ingin Dicapai Dari Kongres
Target utama Kongres Kebudayaan Nusantara adalah menghasilkan rekomendasi dan panduan kebijakan yang dapat menjadi masukan bagi pemerintah, khususnya Kementerian Kebudayaan, dalam mengelola serta mengembangkan nilai-nilai budaya yang hidup di masyarakat.
Seluruh gagasan, aspirasi masyarakat, akademisi, sejarawan, dan budayawan akan disusun dalam bentuk naskah akademik dan buku pedoman yang nantinya disampaikan kepada pemerintah sebagai rekomendasi resmi. Proses tersebut dimulai dari Jawa Timur.
Setiap wilayah yang menjadi lokasi kongres akan menggali akar peradabannya masing-masing, antara lain:
- Jawa Timur mengangkat peradaban Mandala Wilwatikta (Majapahit)
- Jawa Barat menggali warisan Tarumanegara dan Pajajaran
- Bali mengangkat nilai-nilai Dharma Tirta sebagai etalase kebudayaan Nusantara
- Jawa Tengah mengkaji akar budaya Mataram Murni
- Sumatera Utara menggali sistem kenegaraan Sriwijaya dan konsep kemandalaan.
Itulah kita mengadakan konggres kebudayaan ending akhirnya apa ? kita menemukan akar kebudyaan kita , akar jati diri kita, akar dari value .
Kutipan wawancara . “Menghidupkan kembali spirit kebangsaan agar bangsa ini tidak kehilangan arah, tidak menjadi liar dalam arus perubahan, serta tetap berakar pada jati diri, budaya, dan nilai-nilai luhur bangsanya sendiri.”
Melalui rangkaian kongres ini, penyelenggara berharap masyarakat Indonesia dapat kembali mengenali jejak peradabannya sehingga tidak kehilangan memori sejarah maupun jati diri sebagai bangsa.
