Jejak Sang Maestro Arsitektur Penjaga Harmoni Nusantara “ Sunan Sendang Duwur”
Reporter : Alik Maulidatin (LAMONGAN) – folksnews.id

LAMONGAN — Riuh rendah modernisasi di kawasan pesisir utara Jawa Timur, seolah melandai ketika kita memasuki gerbang Desa Sendang duwur, Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan. Di atas sebuah bukit yang dikenal dengan nama Bukit Tunon, berdiri sebuah kompleks pemakaman kuno yang senantiasa diselimuti nuansa sakral. Di sinilah bersemayam Raden Noer Rahmat atau yang lebih dikenal masyarakat luas dengan sebutan Sunan Sendang “Sunan Sendang duwur “.
Meskipun namanya mungkin tidak sepopuler jajaran Wali Songo dalam literature arus utama, kontribusi, karomah, dan warisan budaya yang ditinggalkan oleh Sunan Sendang memiliki kedalaman nilai yang luar biasa. Beliau adalah representasi sempurna dari bagaimana Islam masuk ketanah Jawa dengan cara-cara yang damai, merangkul tradisi lokal, dan melahirkan akulturasi budaya yang megah.
Menelusuri Silsilah dan Sejarah Sang Tokoh
Untuk memahami kebesaran Sunan Sendang Kita harus memutar kembali jarum jam menuju abad ke-16, masa di mana Kerajaan Demak Bintoro memegang kendali politik di pesisir Jawa dan pengaruh Majapahit mulai memudar. Raden Noer Rahmat lahir dari garis keturunan yang terhormat. Ayahnya, Syekh Abdul Qodir (atau dikenal sebagai Sunan Sedayu), merupakan seorang ulama asal Baghdad yang bermigrasi kenusantara untuk menyebarkan syiar Islam. Sementara ibunya adalah Dewi Sukarsih, putrid dari Tumenggung Sedayu
Sejak kecil, Raden Noer Rahmat telah ditempa dengan ilmu agama yang kuat. Kehidupan masa mudanya dipenuhi dengan pengembaraan spiritual dan intelektual. Pilihan beliau untuk menetap di wilayah perbukitan Sendang duwur bukanlah tanpa alasan. Wilayah ini pada masa itu merupakan daerah pedalaman yang masih kental dengan kepercayaan Hindu-Buddha dan animisme. Melalui pendekatan yang santun, Raden Noer Rahmat mulai berbaur dengan masyarakat setempat. Beliau tidak datang sebagai seorang penakluk, melainkan sebagai seorang sahabat, tabib, dan guru yang menawarkan kedamaian.
Keunggulan Strategi Dakwah EpisentrumAkulturasi Budaya
Salah satu keunggulan utama dari Sunan Sendang terletak pada metodologi dakwahnya yang sangat adaptif dan toleran. Beliau memahami betul bahwa meruntuhkan tradisi lama secarapaksa hanya akan melahirkan resistensi. Oleh karenaitu, beliau memilih jalana kulturasi mengawinkan nilai-nilai Islam dengan estetika kebudayaan Hindu-Jawa yang saat itu sudah mendarah daging di masyarakat.
Keunggulan ini paling nyata terlihat pada arsitektur Masjid Sendang duwur yang didirikannya. Masjid ini bukan sekadar tempati badah, melainkan sebuah monument rekonsilias ibudaya. Ketika berkunjung kekompleks ini, kita akan disambut oleh gapura-gapura megah yang berbentuk Candi Bentar dan Paduraksa. Arsitektur ini sangat identik dengan bangunan suciu mat Hindu yang biasa ditemukan di Bali ataupeninggalan Majapahit.
Di dalam kompleks masjid, terdapat ukiran-ukiran kayu yang sangat rumit dan indah pada bagian mihrab serta mimbar. Motif-motifnya memadukan bentuk sulur tumbuhan, bungateratai, hingga visualisasi sayap burunggaruda yang dimaknai ulang secara islami sebagai symbol transendensi spiritual menuju Sang Pencipta. Sunan Sendang berhasil membuktikan bahwa Islam tidak datang untuk menghapus identitas visual lokal, melainkan memperkayanya dengan ruhtauhid.
Karomah dan LegendaPemindahan Masjid dalam Semalam
Berbicara tentang Sunan Sendang tidak lengkap tanpa menyinggung salah satu kisah paling fenomenal yang terus hidup dalam ingatan kolektif masyarakat, legenda pemindahan Masjid Mantingan.Menurut hikayat setempat, Sunan Sendang berteman baik dengan Sunan Kudus dan Ratu Kalinyamat dariJepara. Suatuketika, Raden Noer Rahmat berkeinginan untuk mendirikan sebuah masjid di atas Bukit Tunon. Mendengar hal tersebut, Ratu Kalinyamat menghibah kan sebuah bangunan masjid yang indah di wilayah Mantingan, Jepara. Namun, tantangan besarnya adalah bagaimana membawa bangunan fisik masjid tersebut menyeberangi lautan dan daratan menuju Lamongan.
Di sinilah keunggulan spiritual atau karomah Sunan Sendang termanifestasikan. Konon, dengan kekuatan batin dan izin Allah SWT, Sunan Sendang memindahkan bangunan masjid tersebut dari Jeparake Bukit Sendang duwur hanya dalam waktu satu malam. Terlepas dari sudut pandang modern yang melihat kisah ini sebagai alegori atas kecepatan gotong royong atau mukjizat spiritual, legenda ini menegaskan posisi penting Sunan Sendang sebagai tokoh yang memiliki pengaruh gaib dan dihormati oleh para penguasa zamannya.
Warisan Ekonomi dan Seni Batik Sendang
Keunggulan Sunan Sendang tidak hanya terbatas pada urusan akhirat dan arsitektur semata. Beliaua dalah seorang visioner yang memikirkan kesejahteraan ekonomi umatnya. Sadar bahwa masyarakat pesisir membutuhkan mata pencaharian yang berkelanjutan, Sunan Sendang mengajarkan keterampilan senirupa, salah satunya adalah senimembatik. Keterampilan yang diajarkan berabad-abad lalu itu, kini mengkristal menjadi Batik Tulis Sendang, salah satu komoditas budaya unggulan dari Lamongan. Motif batik Sendang terkenal sangatkhas, didominasi oleh gambar burung bergo, riris sandang, serta ornamen-ornamen yang terinspirasi langsung dari ukiran kayu di kompleks masjid kuno mereka.
Melalui industri batik ini, Sunan Sendang berhasil membangun kemandirian ekonomi masyarakat. Dakwah beliau masuk kedalam lini kehidupan yang paling praktis. Mengisi perut yang lapar, memberi pakaian yang indah, dan menggerakkan roda ekonomi pasar. Hingga hari ini, ratusan perajin batik di Sendang duwur masih menggantungkan hidup dari warisan keterampilan sang wali.
Kompleks Makam Destinasi Wisata Religi dan Refleksi Zaman
Hari ini, berabad-abad setelah wafatnya pada tahun 1585 M, makam Sunan Sendang tidak pernah sepi dari peziarah. Setiapharinya, bus-bus pariwisata dan kendaraan pribadi dari berbagai penjuru nusantara memadati area parkir di kaki bukit. Mereka datang dengan berbagaimotivasi, mencari berkah, mendoakan sang wali, belajar sejarah, atau sekadar mengagumi keindahan arsitekturnya.
Untuk mencapai cungkup makam utama Sunan Sendang, peziarah harus berjalan menanjak dan melewati beberapa lapis gapurakuno. Suasana magis langsung terasabegitu kaki melangkah melewati gapura pertama. Pepohonan kamboja tua yang batangnya meliuk-liuk memberikan peneduh alami dari teriknya matahari pesisir.
Pemerintah daerah bersama Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) secara berkala melakukan perawatan terhadap situs cagar budaya ini. Struktur batu putih pada gapura yang mulai terkikis usia diperkuat tanpa mengubah bentuk aslinya, guna memastikan bahwa generasi mendatang masih bias menyaksikan keagungan karya Sunan Sendang.
Sunan Sendang menunjukkan bahwa menjadi seorang muslim yang taat tidak berarti harus mencopot baju kebudayaan Jawa. Sebaliknya, kebudayaan local dapat menjadi wadah yang indah untuk membumikan ajaran-ajaran universal Islam. Toleransi arsitektural, kemandirian ekonomi lewat batik, serta pendekatan dakwah yang humanis adalahwarisans ejati yang nilainya jauh lebih abadi ketimbang struktur bangunan fisik yang berdiri di atas bukit itu.
Ketika senja mulai turun di Bukit Tunon, lampu-lampu taman mulai menyala, menyinari ukiran-ukiran kayu di Masjid Sendang duwur. Sayup-sayup suara lantunan ayat suci Al-Qur’an terdengar berpadu dengan angin laut yang berembus pelan. Di tempat ini, waktu seolah berhenti, dan kita dipaksa untuk merenung, bahwa kedamaian yang kita nikmati hari ini adalah buah dari kebijaksanaan para pendahulu, salah satunya adalah Raden Noer Rahmat, Sang Sunandari Sendang.
