Klaim Trump soal Hormuz Berhadapan dengan Stok Minyak Global yang Menipis
Reporter: Vidyaningrum, AN

WASHINGTON, 7 Oktober— Arus minyak dari Timur Tengah kembali meningkat, tetapi pasar energi global belum sepenuhnya keluar dari tekanan. Di tengah naiknya pengiriman melalui kawasan Teluk, persediaan minyak yang dapat segera digunakan justru semakin terbatas. Kondisi ini membuat pemulihan pasokan belum otomatis menghilangkan risiko gangguan energi.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan aliran minyak melalui Selat Hormuz telah pulih dan bahkan melampaui tingkat sebelum perang. Pernyataan tersebut disampaikan kepada wartawan pada Selasa (6/10/2026), ketika pengiriman minyak dari kawasan Timur Tengah kembali meningkat dilansir dari reuters.
Namun, peningkatan arus tersebut berlangsung bersamaan dengan penipisan stok global. CEO Saudi Aramco Amin Nasser mengatakan persediaan komersial minyak dunia yang tersisa kini kurang dari 6 miliar barel. Hanya sekitar 10 persen atau kurang yang dinilai benar-benar tersedia untuk digunakan pasar.
Pengiriman Minyak Mulai Meningkat
Besarnya arus minyak yang keluar dari kawasan Timur Tengah terlihat dari aktivitas pengiriman dalam beberapa hari terakhir.
CEO Vitol Russell Hardy menyebut sekitar 12 juta barel minyak mentah per hari dan 2 juta barel produk olahan telah keluar dari Timur Tengah menggunakan kapal dalam tujuh hingga 10 hari terakhir.
Menurut Hardy, aliran tersebut penting untuk menjaga keseimbangan pasar energi menjelang musim dingin. Tanpa volume tersebut, tekanan harga minyak berpotensi meningkat lebih jauh.
Data perdagangan juga menunjukkan pemulihan arus minyak telah terjadi sebelum klaim Trump disampaikan. Pada September, ekspor minyak mentah dari kawasan Timur Tengah tercatat rata-rata 18,3 juta barel per hari. Volume itu bahkan melampaui rata-rata sebelum perang pada 14 hari sepanjang bulan tersebut.
Meski demikian, peningkatan ekspor belum berarti jalur distribusi kembali seperti kondisi normal.
Stok Minyak Global Menjadi Titik Lemah
Penurunan persediaan menjadi persoalan berbeda bagi pasar. Lebih dari 1 miliar barel minyak telah dikeluarkan dari persediaan komersial sejak krisis Timur Tengah dimulai. Pada saat yang sama, kebutuhan minyak dunia berada di kisaran 102 juta barel per hari.
Tidak seluruh minyak yang tersimpan dapat langsung digunakan. Sebagian berada di fasilitas penyimpanan atau jaringan pipa dan dibutuhkan untuk kebutuhan operasional. Faktor kebijakan pemerintah juga membuat sebagian cadangan darurat tidak dapat dilepas sewaktu-waktu.
Karena itu, pasar kini tidak hanya menghadapi persoalan jumlah minyak yang tersedia. Jalur pengiriman, kapal tanker, biaya angkutan, asuransi, dan kapasitas pengolahan ikut menentukan seberapa cepat minyak dapat sampai kepada konsumen.
Risiko Pasokan Belum Hilang
Gangguan pada jalur perdagangan telah mendorong perusahaan energi mempertimbangkan rute ekspor alternatif. Sejumlah pelaku industri juga mendorong pembangunan infrastruktur baru agar pasokan tidak terlalu bergantung pada titik sempit seperti Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb.
Tekanan logistik terlihat dari biaya pengiriman yang meningkat tajam. Reuters melaporkan tarif pengangkutan minyak dari Timur Tengah menuju Asia dengan kapal tanker besar sempat menembus lebih dari US$1,2 juta per hari.
