ECB Naikkan Suku Bunga Jadi 2,5%, Inflasi Zona Euro Melonjak
Reporter: Wahyu – folksnews.id

Frankfurt — ECB menaikkan suku bunga acuan menjadi 2,5 persen setelah meningkatkan suku bunga sebesar 25 basis poin dalam Rapat Dewan Gubernur terbaru. Kenaikan suku bunga ECB tersebut dilakukan untuk merespons lonjakan inflasi zona euro yang dipicu oleh tekanan pasokan energi dan meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.
Kenaikan Suku Bunga ECB Dipicu Tekanan Energi
Krisis geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran sejak akhir Agustus berdampak pada sejumlah jalur distribusi energi vital. Kondisi tersebut membuat pasar komoditas global mengalami volatilitas tinggi dan mendorong kenaikan harga minyak mentah serta gas alam.
Sebagai kawasan yang bergantung pada impor energi, negara-negara zona euro turut merasakan dampak kenaikan harga tersebut. Inflasi tahunan zona euro kemudian melonjak hingga 3,3 persen pada Agustus. Sementara itu, biaya energi meningkat hingga 14,3 persen, jauh di atas target stabilitas harga ECB sebesar 2 persen.
ECB Perketat Kebijakan Moneter
Presiden ECB Christine Lagarde mengatakan bahwa bank sentral perlu memperketat kebijakan moneter untuk mencegah ekspektasi inflasi semakin tidak terkendali. ECB juga terus memantau perkembangan geopolitik di Timur Tengah dan dampaknya terhadap pasar energi.
Selain menaikkan suku bunga, ECB merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi zona euro untuk 2026 menjadi 0,9 persen, dari perkiraan sebelumnya sebesar 0,8 persen. Proyeksi inflasi tahunan diperkirakan berada di sekitar 3,0 persen sebelum secara bertahap kembali menuju target bank sentral.
Dampak Kenaikan Suku Bunga ECB
Keputusan tersebut mendapat perhatian pelaku pasar keuangan. Pengetatan likuiditas berpotensi meningkatkan tekanan terhadap sektor perbankan, biaya pinjaman korporasi, serta daya beli masyarakat di 20 negara anggota zona euro.
Ke depan, arah kebijakan ECB akan bergantung pada perkembangan konflik dan harga energi. Jika situasi mereda, peluang pelonggaran kebijakan dapat terbuka pada tahun depan. Sebaliknya, konflik berkepanjangan dapat membuat ECB mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
