BMKG Pantau Sebaran Debu Vulkanik Gunung Ibu dan Dukono, Mengarah ke Halmahera

Disusun Oleh: Vidyaningrum, AN–FolksNews
JAKARTA— Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memantau sebaran debu vulkanik dari sejumlah gunung api di Indonesia berdasarkan analisis citra RGB Himawari-9 pada Minggu (20/9/2026) pukul 07.00 WIB. Hasil analisis menunjukkan debu vulkanik Gunung Ibu teramati bergerak ke arah tenggara dan mencakup sebagian wilayah Kabupaten Halmahera Barat serta Halmahera Utara.
Selain Gunung Ibu, debu vulkanik Gunung Dukono juga teramati mengarah ke tenggara hingga selatan. Sebaran tersebut mencakup sebagian wilayah Kabupaten Halmahera Utara dan Teluk Kao.
Sementara itu, debu vulkanik Gunung Lewotolo dan Gunung Semeru tidak terdeteksi melalui analisis citra satelit pada waktu tersebut.
Sebaran Debu Vulkanik Gunung Ibu
Berdasarkan analisis BMKG, sebaran debu vulkanik Gunung Ibu teramati bergerak ke arah tenggara. Area sebarannya mencakup sebagian Kabupaten Halmahera Barat dan Kabupaten Halmahera Utara.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena paparan debu vulkanik dapat berdampak pada kesehatan masyarakat serta aktivitas transportasi.
BMKG mengimbau masyarakat di sekitar wilayah terdampak untuk mengikuti perkembangan informasi dari sumber resmi. Masyarakat juga diminta tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi.
Debu Gunung Dukono Mengarah Tenggara hingga Selatan
Sebaran debu vulkanik Gunung Dukono juga terpantau mengarah ke tenggara hingga selatan. Berdasarkan analisis BMKG, sebaran tersebut mencakup sebagian Kabupaten Halmahera Utara dan wilayah Teluk Kao.
Arah sebaran debu vulkanik dapat berubah mengikuti kondisi atmosfer. Karena itu, masyarakat perlu mengikuti informasi terbaru dari BMKG dan instansi terkait.
BMKG juga mengingatkan masyarakat agar mengikuti arahan pemerintah setempat serta informasi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) atau Badan Geologi.
Debu Gunung Lewotolo dan Semeru Tidak Terdeteksi
Hasil analisis citra RGB Himawari-9 juga mencakup Gunung Lewotolo dan Gunung Semeru. Namun, debu vulkanik dari kedua gunung tersebut tidak terdeteksi pada analisis citra yang dilakukan pukul 07.00 WIB.
BMKG memberikan catatan bahwa kondisi tersebut tidak dapat diartikan sebagai tidak adanya debu vulkanik.
Wilayah gunung api dapat tertutup awan sehingga sebaran debu tidak selalu terlihat melalui citra satelit. Karena itu, informasi dari citra satelit perlu dipahami bersama informasi resmi mengenai aktivitas gunung api.
Dampak Debu Vulkanik bagi Kesehatan dan Transportasi
Paparan debu vulkanik dapat menimbulkan sejumlah dampak bagi masyarakat. Pada aspek kesehatan, debu dapat menyebabkan iritasi mata dan kulit serta memicu batuk dan gangguan pernapasan.
Kondisi tersebut juga dapat memperburuk gangguan pernapasan pada masyarakat yang memiliki riwayat penyakit terkait.
Selain kesehatan, debu vulkanik dapat mengganggu aktivitas transportasi darat, laut, dan udara. Debu dapat mengurangi jarak pandang, membuat jalan licin, serta mengganggu kenyamanan dan keselamatan berkendara.
Pada kondisi tertentu, debu juga dapat mengganggu fungsi mesin dan peralatan transportasi. Dampaknya dapat berupa keterlambatan, pengalihan rute, hingga penghentian sementara perjalanan.
BMKG Imbau Masyarakat Pantau Informasi Resmi
BMKG mengimbau masyarakat, khususnya yang berada di sekitar Kabupaten Halmahera Utara dan Kabupaten Halmahera Barat, untuk tidak panik tetapi tetap waspada.
Masyarakat diminta mengikuti perkembangan informasi dari sumber resmi. Informasi yang belum terverifikasi juga perlu dihindari untuk mencegah kesalahpahaman mengenai kondisi sebaran debu vulkanik.
Selain BMKG, masyarakat dapat mengikuti informasi dari PVMBG atau Badan Geologi serta pemerintah setempat.
Pemantauan sebaran debu vulkanik akan tetap bergantung pada kondisi atmosfer dan hasil analisis terbaru. Karena itu, informasi mengenai arah dan cakupan sebaran dapat berubah mengikuti pembaruan data.
