Inovasi AI Tiongkok Dorong Ekonomi Digital Global 2026
Inovasi AI Tiongkok Dorong Ekonomi Digital Global 2026
BEIJING – Inovasi AI Tiongkok kembali menjadi sorotan dunia. Berbagai teknologi berbasis kecerdasan buatan yang lahir dari kebutuhan riil masyarakat terus bermunculan, memberi dorongan baru bagi pertumbuhan ekonomi digital global. Para pengamat menilai fenomena ini bukan sekadar lompatan teknis, melainkan pergeseran cara industri memandang peran AI dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, gambaran nyata dari perkembangan ini terlihat jelas di Konferensi Ekonomi Digital Global 2026 yang berlangsung di Beijing. Pengunjung dapat menyaksikan langsung bagaimana avatar digital memandu proses diagnosis kesehatan hanya lewat pemindaian wajah dan mata. Dalam hitungan menit, alat diagnostik cerdas ini mampu menyusun laporan kesehatan personal — sebuah proses yang dulu hanya bisa dilakukan lewat pemeriksaan tatap muka oleh praktisi pengobatan tradisional Tiongkok (TCM).

AI Digitalkan Warisan Pengobatan Tradisional
Zhou Chao, manajer bisnis Guanwei Intelligent Technology (Beijing) Co., Ltd. selaku pengembang alat tersebut, menjelaskan bahwa perusahaannya memanfaatkan kecerdasan buatan untuk mendigitalkan sekaligus menstandardisasi metode diagnosis TCM. Dengan begitu, warisan pengobatan tradisional itu bisa dinikmati lebih banyak orang di berbagai belahan dunia. Ia menambahkan, perangkat ini kini tersedia dalam lebih dari selusin bahasa, termasuk Inggris, Korea, Rusia, dan Thailand, sembari terus memperluas jangkauan ke pasar internasional.
Namun demikian, alat diagnostik itu hanyalah satu dari sekian banyak produk digital yang dipamerkan para inovator global dalam konferensi yang berlangsung empat hari tersebut. Sebagian besar pameran menonjolkan pendekatan yang berpusat pada manusia, memberi gambaran arah ekonomi digital baik di Tiongkok maupun secara global.
Robot Las Cerdas hingga Ekspansi Global ByteDance
Di sisi lain, perusahaan robotika Xiaoyubot turut menarik perhatian lewat sistem pengelasan cerdas. Dalam demonstrasinya, staf hanya perlu menandai jalur di permukaan struktur baja menggunakan pena penentu posisi, memilih prosedur pengelasan, lalu lengan robot langsung memposisikan diri untuk memulai proses secara otomatis. Perusahaan mengklaim operator baru bisa menguasai sistem ini hanya dalam tiga menit, dengan potensi penerapan luas di galangan kapal maupun bengkel konstruksi baja.
“Nilai tertinggi dari kecerdasan yang terwujud terletak pada pelayanan terhadap ekonomi riil,” ujar Qiao Zhongliang, pendiri sekaligus CEO Xiaoyubot. Ia menambahkan, selain mendongkrak efisiensi produksi, sistem ini juga membebaskan pekerja dari kondisi kerja berat seperti panas ekstrem, silau cahaya, dan paparan asap berbahaya.
Popularitas teknologi berbasis AI juga terlihat dalam keseharian masyarakat Tiongkok. Di berbagai kota, anjing robot dan layanan foto perjalanan berbasis AI digemari kalangan muda, menandakan makin dalamnya integrasi teknologi digital dalam rutinitas sehari-hari. Ekspansi ini pun tidak berhenti di dalam negeri: TikTok, produk andalan ByteDance, kini hadir di lebih dari 100 negara dan wilayah, sementara Dola — versi internasional dari Doubao — ramai diperbincangkan di media sosial global. Zhipu AI bahkan telah menggarap proyek infrastruktur skala besar di Singapura, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi untuk mempermudah akses layanan digital berbasis AI di luar Tiongkok.
Kombinasi Kebijakan dan Riset Dorong Ekosistem AI
“Kita sedang menyaksikan terobosan luar biasa dalam teknologi, terutama pada inovasi AI,” kata Joe Weinman, pendiri International Institute for Future Industries. Menurutnya, kombinasi dukungan pemerintah, keunggulan riset akademis, semangat kewirausahaan, dan talenta unggul menjadikan Tiongkok — khususnya Beijing — sebagai salah satu motor utama dunia dalam pengembangan teknologi ini.
Sementara itu, Jiang Xiaojuan, profesor di Universitas Akademi Ilmu Sosial Tiongkok, menilai berbagai terobosan ini lahir dari pendekatan inovasi khas Tiongkok yang mengutamakan keterbukaan, semangat berbagi, dan orientasi pada kebutuhan masyarakat. Berbeda dari era manufaktur yang umumnya berekspansi ke luar negeri setelah mencapai skala besar di pasar domestik, ia menyebut model AI besar justru bersifat global sejak awal kemunculannya. Keberadaan model AI sumber terbuka pun mempercepat penyempitan kesenjangan kemampuan antarperusahaan lintas negara, sekaligus menekan biaya inovasi dan kolaborasi internasional.
Tantangan Keamanan Data Jadi Sorotan
Di tingkat kebijakan, Tiongkok terus mempercepat penerapan teknologi digital dan cerdas di seluruh sektor ekonominya. Rencana Lima Tahun ke-15 (2026-2030) menargetkan penguatan industri inti ekonomi digital serta pembentukan klaster industri digital yang berdaya saing global, dengan penekanan pada pemanfaatan teknologi digital dan data untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sektor pendidikan, kesehatan, perawatan lansia, budaya, pariwisata, ketenagakerjaan, dan konsumsi.
Meski begitu, tantangan global seperti keamanan data, arus data lintas batas, dan batas teknologi yang semakin kabur turut menjadi sorotan para pakar dalam konferensi tersebut. Mereka mendorong dibentuknya mekanisme dialog multilateral secara rutin serta jalur kerja sama industri agar masa depan digital yang aman dan tepercaya dapat dibangun bersama.
Laporan Kota Ekonomi Digital Global 2026 yang dirilis dalam konferensi tersebut menyoroti sejumlah prioritas bagi kemitraan ekonomi digital ke depan, di antaranya digitalisasi yang berorientasi pada manusia, kolaborasi lintas industri, keterbukaan data, pengakuan bersama atas standar, keamanan siber, serta kerja sama berbasis aliansi.
“Baik ekonomi digital maupun AI sejatinya bukan tujuan akhir, melainkan sarana untuk mendorong pembangunan berkelanjutan bagi umat manusia,” ujar Gong Ke, presiden eksekutif Institut Strategi Pengembangan Kecerdasan Buatan Generasi Baru Tiongkok, menutup rangkaian pernyataan dalam konferensi tersebut.
Sumber: Xinhua, dilaporkan dari Beijing, 5 Juli 2026. Ditulis ulang oleh Wahyu untuk FOLKSnews.id.
