Impor Indonesia 2025 Tembus US$241,36 Miliar, Tiongkok Masih Jadi Pemasok Utama
Oleh: Fiky | Ekonomi | Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS)
Nilai impor Indonesia sepanjang 2025 tercatat sebesar US$241,36 miliar, naik 2,62 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) dalam publikasi Statistik Perdagangan Luar Negeri Indonesia Impor 2025 menunjukkan bahwa kenaikan tersebut ditopang oleh melonjaknya impor nonmigas, sementara impor migas justru menyusut.
Dari total nilai impor tersebut, sektor migas menyumbang US$32,73 miliar atau turun 9,76 persen akibat berkurangnya pembelian minyak mentah dan hasil minyak. Sebaliknya, impor nonmigas melonjak 4,88 persen menjadi US$208,62 miliar dan kini menguasai 86,44 persen dari total impor nasional, naik dari 84,58 persen pada 2024.
Tiongkok Kokoh di Puncak, Volume Impor Ikut Naik
Dari sisi volume, total impor Indonesia pada 2025 mencapai 242,85 juta ton, naik 4,21 persen dibanding tahun sebelumnya. Tiongkok tetap menjadi negara asal impor terbesar dengan nilai US$87,41 miliar atau melesat 18,36 persen, menguasai 36,22 persen dari seluruh impor Indonesia. Komoditas mesin dan peralatan mekanis menjadi andalan impor dari Negeri Tirai Bambu tersebut.
Di posisi berikutnya ada Singapura senilai US$19,06 miliar (turun 11,48 persen), Jepang US$14,46 miliar (turun 3,47 persen), Amerika Serikat US$12,93 miliar (naik 7,55 persen), dan Malaysia US$11,12 miliar (naik 1,82 persen). Kelima negara ini bersama-sama menyumbang 60,08 persen dari seluruh kebutuhan impor Indonesia.
Bahan Baku Masih Mendominasi, Barang Modal Melesat
Berdasarkan golongan penggunaan barang, bahan baku/penolong tetap mendominasi struktur impor dengan porsi 70,11 persen atau senilai US$169,22 miliar. Uniknya, di tengah tren perlambatan hampir semua kategori, impor barang modal justru mencatat pertumbuhan tertinggi, yakni 19,08 persen menjadi US$49,72 miliar—mengindikasikan geliat investasi dan ekspansi industri dalam negeri. Sementara itu, impor barang konsumsi tercatat US$22,42 miliar atau menyusut 1,35 persen.
Asia Jadi Sumber Impor Terbesar
Secara kawasan, Benua Asia tetap menjadi pemasok utama impor Indonesia dengan kontribusi 74,61 persen atau senilai US$180,08 miliar. Disusul kawasan Amerika (9,82 persen), Eropa (7,62 persen), Australia dan Oceania (4,35 persen), serta Afrika yang hanya menyumbang 3,60 persen.
Tanjung Priok Tetap Jadi Pintu Masuk Utama
Dari sisi pelabuhan bongkar, Pelabuhan Tanjung Priok di DKI Jakarta masih menjadi gerbang utama arus impor nasional dengan nilai US$91,79 miliar atau 38,03 persen dari total impor Indonesia. Posisi berikutnya ditempati Bandara Soekarno-Hatta dengan nilai impor US$24,57 miliar meski volumenya relatif kecil, menandakan dominasi komoditas bernilai tinggi yang diangkut lewat jalur udara.
Data BPS ini menjadi salah satu indikator penting untuk membaca arah kebijakan perdagangan dan investasi Indonesia ke depan, terutama di tengah dinamika ekonomi global yang masih penuh tantangan.
Sumber: BPS, Statistik Perdagangan Luar Negeri Indonesia Impor 2025, Volume 43, 2026.
