Dari Belanda untuk Plasma Nutfah Indonesia: Ketika Wageningen dan UB Bicara Genetika Sapi Madura, Sapi Bali, dan Kambing PE

Spread the love

Reporter: Fahrudin Husen – folksnews.id

Siang itu, di sudut sebuah kafe di Malang, sebuah meja kaca beralas besi menjadi saksi obrolan yang tak biasa. Laptop terbuka di beberapa titik, gelas kopi dan botol air mineral berjajar di antara catatan yang berserakan. Di salah satu sisi meja duduk Prof. Richard Crooijmans, ilmuwan genetika ternak dari Wageningen University & Research (WUR), Belanda jauh-jauh datang bukan untuk berlibur, melainkan untuk bicara tentang sapi, kambing, dan masa depan genetik ternak lokal Indonesia.

Di sekelilingnya, dosen dan mahasiswa program doktor Fakultas Sains dan Teknologi Peternakan Universitas Brawijaya (FAST UB) menyimak sekaligus menimpali. Topik yang dibahas tidak ringan: bagaimana menjaga keragaman genetik Sapi Madura, Sapi Bali, dan Kambing Peranakan Etawa (PE) tiga plasma nutfah yang selama puluhan tahun beradaptasi dengan iklim tropis, pakan seadanya, dan kondisi lingkungan yang jauh dari ideal, namun kini menghadapi tantangan baru: perubahan iklim, penyusutan populasi murni, dan minimnya program pemuliaan berbasis data genomik.

Prof. dr. Richard P.M.A. Crooijmans bersama Prof. Dr. Ir. V.M. Ani Nurgiartiningsih, M.P., dosen, dan mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Brawijaya berfoto bersama setelah diskusi mengenai rencana kolaborasi penelitian genomika ternak lokal Indonesia. Kerja sama ini mencakup pengembangan riset pada Sapi Madura, Sapi Bali, dan Kambing Peranakan Etawah (PE) melalui program Adjunct Professor Universitas Brawijaya.

Bagi Crooijmans, isu ini bukan hal asing. Ia baru saja diangkat sebagai Personal Professor of Animal Breeding and Genomics di WUR per Maret 2026, dengan riset yang secara khusus menyoroti konservasi keragaman genetik ternak tradisional terutama ruminansia seperti sapi, domba, dan kambing di tengah dunia yang iklimnya kian tidak menentu. Ternak lokal Indonesia, dengan sejarah adaptasi panjang terhadap lingkungan tropis, menjadi salah satu materi genetik yang menarik untuk dipelajari lebih jauh dari perspektif itu.

Prof. dr. Richard P.M.A. Crooijmans dari Wageningen University & Research (WUR), Belanda, menyampaikan materi mengenai pemanfaatan marker molekuler dalam pemuliaan ternak pada kegiatan Adjunct Professor Program di Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Brawijaya, Malang. Program ini menjadi bagian dari penguatan kolaborasi riset internasional di bidang genetika dan genomika ternak lokal Indonesia.

Beberapa jam kemudian, suasana berubah lebih formal. Di ruang pertemuan kampus FAST UB, Crooijmans berdiri berdampingan dengan Prof. Dr. Ir. Veronica Margareta Ani Nurgiartiningsih, M.Sc. Ketua International Relation Office (IRO) FAST UB yang menjadi tuan rumah kunjungan ini bersama jajaran dosen dan mahasiswa. Satu per satu mengangkat tangan kanan sejajar dada, memberi salam khas Universitas Brawijaya, sebelum kamera mengabadikan momen itu.

Prof. dr. Richard P.M.A. Crooijmans memaparkan materi mengenai analisis filogenetik dan aplikasi genomika dalam konservasi serta pemuliaan ternak pada sesi kuliah internasional di Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Brawijaya, Malang. Materi tersebut memberikan wawasan mengenai penerapan teknologi genom modern untuk mendukung pengembangan ternak lokal.

Namun momen paling menarik justru terjadi di ruang diskusi yang lebih kecil. Sebuah whiteboard putih dipenuhi coretan rumus notasi varians, kovarians, hingga model REML dan BLUP yang menjadi bahasa sehari-hari dalam dunia pemuliaan ternak kuantitatif. Di depan layar yang menampilkan slide presentasi, mahasiswa duduk mengelilingi meja dengan laptop terbuka, sesekali mencatat, sesekali bertanya. Bukan seminar formal dengan podium dan mikrofon, melainkan diskusi kerja yang jauh lebih personal tempat teori bertemu data lapangan.

Pertemuan ini menjadi bagian dari Program Adjunct Professor Universitas Brawijaya, sebuah skema yang dirancang untuk mempertemukan akademisi UB dengan pakar-pakar kelas dunia demi mendorong riset kolaboratif dan publikasi ilmiah bereputasi internasional. Bagi FAST UB, kunjungan Crooijmans juga melanjutkan hubungan yang sudah terjalin dengan WUR sejak 2022, ketika kedua institusi menandatangani nota kesepahaman mencakup pertukaran mahasiswa, dosen tamu, hingga bimbingan bersama mahasiswa pascasarjana.

Peserta, dosen, dan mahasiswa berfoto bersama Prof. dr. Richard P.M.A. Crooijmans usai pelaksanaan Adjunct Professor Program di Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Brawijaya. Kegiatan ini bertujuan memperkuat kerja sama akademik dan penelitian antara Universitas Brawijaya dengan Wageningen University & Research dalam pengembangan sumber daya genetik ternak lokal Indonesia.

Yang membuat pertemuan ini terasa berbeda adalah kedekatan topiknya dengan riset yang sedang berjalan di FAST UB sendiri termasuk penelitian genomik berbasis whole-genome resequencing pada ternak lokal yang tengah memetakan keragaman genetik dan menelusuri gen-gen kandidat seleksi. Ketika seorang profesor dari Belanda dan mahasiswa doktoral Indonesia sama-sama menatap rumus varians di whiteboard yang sama, ada semacam pertemuan dua dunia: pengetahuan global tentang genomik ternak, dan kekayaan genetik lokal yang selama ini belum banyak terungkap.

Sapi Madura yang tangguh di panas terik, Sapi Bali yang efisien mengonversi pakan sederhana menjadi daging, dan Kambing PE yang jadi andalan peternak susu kambing di Jawa Timur ketiganya kini punya alasan baru untuk dipelajari lebih dalam. Bukan sekadar warisan, tapi juga materi genetik yang, jika dikelola dengan tepat, bisa menjadi jawaban atas tantangan peternakan di masa depan.

(AFH-Ahmad Fahrudin Husen)

 

 

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *